TEKNIK MENYUSUN PROGRAMA PENYULUHAN PERTANIAN

A. Latar Belakang
Berdasarkan Undang-undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian , Perikanan dan Kehutanan ( SP3K ) pada Bab VII Pasal 23 menyebutkan bahwa Programa penyuluhan dimaksudkan untuk memberikan arah, pedoman, dan alat pengendali pencapaian tujuan penyelenggaraan penyuluhan . Programa penyuluhan terdiri atas programa penyuluhan desa/kelurahan atau unit kerja lapangan, programa penyuluhan kecamatan, programa penyuluhan kabupaten/kota, programa penyuluhan provinsi, dan programa penyuluhan nasional, yang disusun dengan memperhatikan keterpaduan, dan kesinergian programa pada setiap tingkatan sebagaimana tersebut diatas. Sedangkan keterpaduan dimaksudkan bahwa programa penyuluhan pertanian disusun dengan memperhatikan programa penyuluhan tingkat kecamatan, tingkat kabupaten/kota, tingkat provinsi dan tingkat nasional, kalau kesinergian dimaksudkan bahwa programa penyuluhan pertanian pada tiap tingkatan mempunyai hubungan yang bersifat saling mendukung, sehingga semua programa penyuluhan pertanian selaras dan tidak bertentangan antara programa penyuluhan pertanian dalam berbagai tingkatan . Programa penyuluhan disusun setiap tahun yang memuat rencana penyuluhan tahun berikutnya dengan memperhatikan siklus anggaran masing-masing tingkatan yang mencakup pengorganisasian dan pengelolaan sumber daya sebagai dasar pelaksanaan penyuluhan yang dalam implementasinya harus terukur, realistis, bermanfaat, dan dapat dilaksanakan serta dilakukan secara partisipatif, terpadu, transparan, demokratis dan bertanggunggugat. Namun dalam implementasinya selama ini masih menghadapi berbagai permasalahan yang berkaitan dengan programa penyuluhan pertanian, yang antara lain sebagai berikut:
1.belum tertibnya penyusunan programa penyuluhan pertanian di semua tingkatan;
2.naskah programa penyuluhan pertanian belum sepenuhnya dijadikan sebagai acuan dalam penyelenggaraan penyuluhan pertanian;
3.programa penyuluhan pertanian kurang mendapat dukungan dari dinas/instansi terkait;
4.penyusunan programa penyuluhan pertanian masih didominasi oleh penyuluh/petugas (kurang partisipatif)
5.penyusunan programa penyuluhan belum sepenuhnya mengacu pada Peraturan Menteri Pertanian nomor :25/Permentan/OT.140/5/2009 tentang Pedoman Penyusunan Programa Penyuluhan Pertanian.
Di lain pihak dengan berlakunya Undang-undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, maka melalui penyusunan programa penyuluhan pertanian diharapkan dapat menghasilkan kegiatan penyuluhan pertanian spesifik lokalita yang strategis dan mempunyai daya ungkit yang tinggi terhadap peningkatan produktivitas komoditas unggulan daerah dan pendapatan petani sehingga tercapai apa yang kita inginkan bersama yaitu meningkatnya kesejahteraan petani

MENYUSUN PROGRAMA PENYULUHAN PERTANIAN
1. Merumuskan Keadaan
a. Menghimpun Data potensi wilayah
Sebelum melakukan kegiatan menghimpun data potensi wilayah, perlu dibahas dulu pengetahuan tentang Identifikasi keadaan wilayah.
Pengetahuan yang diperlukan dalam menghimpun data potensi wilayah
1) Identifikasi keadaan wilayah
Identifikasi keadaan wilayah adalah suatu proses penggalian dan analisis informasi (masalah, potensi, dll) keadaan wilayah pertanian, baik berupa data sekunder maupun data primer, yang dilakukan secara bersama oleh tim dengan menggunakan prinsip dan metode partisipatif. Hasil yang diharapkan adalah tersedianya gambaran keadaan wilayah pertanian secara menyeluruh di wilayah kerja penyuluh . Identifikasi keadaan wilayah di tingkat desa digunakan bahan penyusunan programa penyuluhan tingkat desa, sedangkan rekapitulasi data identifikasi dalam programa penyuluhan tingkat desa akan digunakan sebagai bahan penyusunan programa tingkat kecamatan, selanjutnya hasil rekapitulasi identifikasi keadaan di tingkat kecamatan akan digunakan sebagai bahan penyusunan programa penyuluhan tingkat kabupaten dan seterusnya sampai ke tingkat propinsi.
2) Dasar-dasar Statistik
Statistik adalah suatu pengetahuan tentang pengumpulan, penganalisaan, penyajian, dan penginterpretasian data berbentuk angka atau grafik dilakukan secara logis dan sistematis.
a) Data
Data adalah pernyataan fakta yang merupakan hasil dari penelitian. Data yang sudah diolah disebut informasi.
(1) Macam-macam Data
Ada beberapa macam data, yaitu:
(a) data primer dan data sekunder
(b) data intern dan data ekstern
(c) data diskrit dan data kontinu
(d) data kuantitatif dan data kualitatif.
Data primer adalah data yang sudah tersedia atau sudah dimiliki, sedangkan data sekunder adalah data tambahan.
Data intern adalah data yang diperoleh dari aktivitasnya sendiri, sedangkan data ekstern adalah data yang diperoleh di luar aktivitasnya sendiri, misalnya dari Biro Statistik.
Data diskrit adalah data yang diperoleh dari hasil menghitung, misalnya jumlah penduduk satu kecamatan, sedangkan data kontinu adalah data yang diperoleh dari hasil mengukur, misalnya luas wilayah satu kecamatan.
Data kuantitatif adalah data dalam bentuk bilangan, sedangkan data kualitatif adalah data non-bilangan yang mengandung karakteristik tertentu, misalnya bagus, jelek, dsb. Data yang diperoleh dengan cara sensus disebut populasi. Sampling adalah data yang diperoleh dari sebagian populasi sehingga data tersebut dapat dipakai untuk menyimpulkan suatu populasi dan selanjutnya merupakan representatif dari populasi. Untuk jelasnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
3). Metoda Statistik
Ada empat metoda pokok statistik:
(1) Pengumpulan Data, a.l. melalui observasi, wawancara, kuesioner, media cetak, media elektronik, data yang tersimpan sebelumnya;
(2) Analisis Data, yaitu menguraikan ke dalam bermacam-macam komponen, penguraiannya harus logis dan bermanfaat;
(3) Penyajian Data, penyajian data dalam bentuk a.l. tabulasi, grafik, diagram batang, dan pie sehingga mudah untuk diinterpretasikan.
(4) Interpretasi Data, yaitu memberikan dan mendapatkan arti data dalam hubungannya antara satu dengan yang lainnya.

b. Data Keadaan
Keadaan menggambarkan fakta-fakta yang berupa data dan informasi mengenai potensi, produktivitas dan lingkungan usaha pertanian, tingkat kemampuan petani dan kebutuhan pelaku utama dan pelaku usaha di wilayah kerja penyuluh (desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional) pada saat akan disusunnya programa penyuluhan pertanian. Adapun data keadaan yang digunakan dalam menyusun programa penyuluhan pertanian adalah sebagai berikut:
1). Potensi usaha
Menggambarkan peluang usaha sesuai dengan peluang pasar, kondisi agroekosistem setempat, sumberdaya dan teknologi yang tersedia guna meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan pelaku utama dan pelaku usaha
2). Produktivitas usaha
Menggambarkan perolehan hasil usaha per satuan unit usaha (faktual) maupun potensi perolehan hasil usaha yang dapat dicapai guna meningkatkan pendapatan petani
3). Lingkungan Usaha
Menggambarkan kondisi ketersediaan sarana prasarana usaha yang meliputi:
– agroinput
– pasca panen
– pengolahan hasil
– distribusi
– pemasaran hasil
4). Perilaku
Merupakan kemampuan yang meliputi pengetahuan, ketrampilan dan sikap dari pelaku utama dan pelaku usaha dalam menerapkan teknologi usaha dari hulu sampai hilir
5). Kebutuhan Pelaku utama dan pelaku usaha
Menggambarkan kebutuhan dari pelaku utama maupun pelaku usaha dalam memperoleh perlindungan, kepastian , kepuasan dalam berusaha tani sehingga mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraannya .

c. Penyajian Data
Data yang sudah diolah dan dianalisis akan dimengerti oleh orang lain kalau disajikan dalam bentuk visual. Ada dua kelompok penyajian data:
(1) Kelompok tabel/daftar, yang dibagi menjadi tiga golongan, yaitu:
(a) Tabel baris-kolom, berupa baris horizontal dan vertikal
(b) Tabel kontingensi, untuk menyatakan kondisi manusia
(c) Tabel distribusi frekuensi, penyederhaaan tabel.
(2) Kelompok grafik/diagram, yang dibagi menjadi enam golongan, yaitu:
(a) Diagram batang
(b) Diagram garis
(c) Diagram lambang
(d) Diagram lingkaran/pastel
(e) Diagram peta/kartogram
(f) Diagram titik/pencar.
Komponen-komponen tabel, yaitu:
• Judul tabel
• Nama kolom
• Catatan kaki
• Indikasi sumber.
Keempat komponen tersebut dijelaskan dalam contoh tabel, Bentuk-bentuk tabel sesuai dengan golongannya

2. Menetapkan Tujuan
Tujuan programa penyuluhan pertanian secara umum adalah untuk memfasilitasi penyelenggaraan penyuluhan pertania sesuai dengan ketersediaan sumberdaya yang dimiliki dan kebutuhan wilayahnya. Programa Penyuluhan Pertanian memuat pernyataan tentang perubahan perilaku dan kondisi pelaku utama dan pelaku usaha yang diharapkan.
a. Merumuskan tujuan dengan prinsip SMART
Prinsip yang digunakan dalam merumuskan tujuan adalah:
S ( Spesific / khas)
M ( Measurable/dapat diukur)
A ( Actionary/dapat dikerjakan)
R ( Realistic/ realistis)

b. Penyusunan tujuan
Hal –hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun tujuan adalah harus
Memperhatikan:
A ( Audience/khalayak sasaran)
B ( Behaviour/perubahan perilaku)
C ( Condition/kondisi yang akan dicapai)
D ( Degree/derajat kondisi yang akan dicapai)

3. Menetapkan masalah
a. Faktor –faktor penyebab yang bersifat perilaku dan non perilaku
Faktor perilaku , yaitu factor yang berkaitan dengan tingkat adopsi pelaku utama dan pelaku usaha terhadap penerapan suatu inovasi teknologi, misalnya belum yakin , belum mau, atau belum mampu dalam menerapkan inovasi teknologi dalam usaha taninya.
Faktor non perilaku,yaitu factor yang berkaitan dengan ketersediaan dan kondisi sarana prasarana pendukung usaha pelaku utama dan pelaku usaha ( misalnya ketersediaan pupuk, benih/bibit atau modal usaha)

b. Penetapan prioritas masalah
Permasalahan-permasalahan yang sudah diidentifikasi dibuat pemeringkatan sesuai dengan prioritas pembangunan pertanian di wilayah masing-masing dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
1). Apakah masalah tersebut berkaitan dengan potensi usaha, produktivitas, lingkungan usaha, perilaku, kebutuhan, efektivitas dan efisiensi usaha pelaku utama dan pelaku usaha
2). Apakah masalah tersebut menyangkut mayoritas pelaku utama dan pelaku usaha
3). Apakah tersedia kemudahan biaya , tenaga , teknologi/inovasi guna pemecahan masalah

4. Menetapkan Rencana Kegiatan
a. Menyusun rencana kegiatan dengan memperhatikan SIADIBIBA
Rencana kegiatan menggambarkan :
– Siapa yang melakukan dan siapa sasarannya
– Apa tujuan yang ingin dicapai
– Dimana kegiatan dilaksanakan
– Bilamana/ kapan kegiatan dilaksanakan
– Berapa hasil yang ingin dicapai (kuantitas dan kualitas)
– Berapa korbanan yang diperlukan(biaya, tenaga dll)
– Bagaimana melaksanakannya (melalui kegiatan apa)

b. Penyusunan rencana kegiatan dalam bentuk tabulasi
Rencana kegiatan yang disajikan dalam bentuk matriks yang berisi:
– masalah
– kegiatan
– metode
– keluaran
– sasaran
– volume/frekuensi

– lokasi
– waktu
– biaya
– sumber biaya
– penanggungjawab
– pelaksana
– pihak terkait

Setelah selesai melakukan kegiatan menyusun programa penyuluhan pertanian di tingkat Desa, Kecamatan, Kabupaten/ Provinsi, maka perlu dibuat laporan hasil kegiatan tersebut dengan sistematika sebagai berikut:

COVER (Judul laporan)
LEMBAR PENGESAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Tujuan
C. Pengertian
D. Dasar Hukum
BAB II KEADAAN UMUM
A. Deskripsi Umum Wilayah
B. Kondisi Umum
C. Sarana dan Prasarana Penunjang
BAB III TUJUAN
A. Tujuan Umum
B. Tujuan Khusus
BAB IV MASALAH
BAB V RENCANA KEGIATAN PENYULUHAN
BAB VI PENUTUP
LAMPIRAN-LAMPIRAN

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

TEKNIK PENGELOLAAN ITIK PEDAGING

Kalau kita perhatikan, tingkat konsumsi protein hewani masyakarakat sekarang menunjukkan grafik yang terus meningkat seiring dengan tingkat pendapatan dan kesadaran masyarakat. Sebenarnya ini adalah peluang usaha dari sisi pemenuhan kebutuhan daging baik daging ruminansia maupun daging unggas. Dari segi tingkat kebutuhan daging unggas, daging itik menduduki peringkat kedua setelah daging ayam disusul kemudian oleh daging puyuh dan merpati

Selama ini pemenuhan kebutuhan daging itik hanya berasal dari itik petelur yang sudah habis masa produktifnya alias sudah di afkir. Hal ini tidak sejalan dengan marak dan berkembangnya bisnis kuliner seperti resto dan yang semisalnya yang menyajikan menu masakan daging bebek (itik). Maraknya resto dan warung tenda yang menyajikan menu bebek seperti lalapan bebek goreng, bebek bakar, dan bebek presto di berbagai daerah bisa menjadi sandaran bagi peternak itik pedaging. Menu olahan daging bebek ternyata menjadi daya tarik tersendiri bagi pecinta kuliner. Tak ayal jumlah permintaan daging itik naik sedangkan ketersediaan barang sedikit sehingga peluang pasar itik pedaging pun kian menjanjikan dan semakin terbuka lebar.
Kualitas dari daging itik afkir tidak sebaik daging itik yang memang dikembangkan sebagai itik pedaging. Daging itik muda mempunyai tekstur lebih lembut, lebih empuk, lebih gurih dan nilai gizinya lebih tinggi lantaran mulai dipotong rata-rata umur 5-6 minggu.
Berikut kami sajikan beberapa pertanyaan yang akan dapat menghilangkan keraguan anda untuk memulai usaha penggemukan itik jantan :
Kenapa mesti itik?
Kita semua tahu dan akan mufakat bahwa satu porsi nasi bebek harganya lebih mahal 1-2 kali lipat jika dibandingkan dengan harga satu porsi nasi ayam (goreng, bakar, crispy, dll). Mengapa? Karena daging itik mempunyai cita rasa khas tersendiri apalagi daging itik muda.
Mengapa itik jantan?
Harga DOD itik jantan lebih murah daripada yang betina, di samping itu secara teori dan praktek pun menyimpulkan bahwa laju pertumbuhan itik jantan lebih cepat dari pada itik betina.
Mengapa 40 hari?
Sebesar 30% biaya produksi masuk untuk biaya pakan. Kebutuhan pakan meningkat seiring dengan bertambahnya umur itik. Selain itu itik jantan relatif lebih banyak mengkonsumsi pakan daripada itik betina. Semakin cepat waktu pemeliharaan harapannya adalah semakin sedikit biaya yang kita keluarkan untuk pakannya. Kedua adalah dengan memperhitungkan harga jual bebek umur 40 hari yang lumayan tinggi. Dan ketiga karena pada rentang umur tersebut adalah laju pertumbuhan yang optimal.
Harga jual dan peluang pasar
Kalau kita cermati harga itik afkir sekarang sekitar Rp 27.000-30.000/ekor dengan berat sekitar 1,5-1,8kg. Dengan harga yang sama kita akan bisa mendapatkan 2 ekor itik remaja.
Setelah beberapa pertanyaan dan keraguan anda sedikit terjawab, dan keinginan untuk usaha ini tetap ada maka kita melangkah pada usaha manajemen pemeliharaan antara lain masalah bibit, pakan, kandang dan penyakit. Berikut akan kami uraikan sedikit tentang ke-4 hal tersebut.
Bibit
Umur itik antara 1-7 hari disebut dengan DOD (Day Old Duck). Banyak cara untuk mendapatkan DOD antara lain dengan menetaskan sendiri, beli telur tetasnya, atau beli DOD langsung dari supplier atau produsen DOD. Kami di sini tidak bicara untung-rugi tentang cara mendapatkan DOD, tapi yang kita bicarakan dalam konteks ketersediaan bibit. Kalau lokasi anda dekat dengan penyedia DOD maka mintalah DOD yang sudah berumur 3-7 hari meskipun harganya terpaut sekitar Rp 200-300/ekor tapi akan lebih menguntungkan kalau kita hitung lebih teliti. Keuntungan kalau kita membeli pada umur tersebut adalah sudah bisa diketahui DOD yang kerdil atau tali pusatnya bermasalah dan tingkat kematian (mortalitas) rendah.
Pakan
Pakan DOD umur 1-3 minggu sebaiknya menggunakan pakan pabrikan(concentrate). Yang sering digunakan adalah jenis pakan starter untuk ayam pedaging. Multivitamin dan antibiotika juga perlu diberikan seperti vitachick, rhodivit, sorbitol dan lain sebagainya. Frekuensi pemberian pakan kalau bisa diusahakan lebih banyak dan teratur. Keuntungannya yang akan di dapat dengan frekuensi pemberian pakan lebih banyak adalah pakan yang kita berikan senantiasa fresh dan terkontrol. Setelah umur 3 minggu pakan bisa diganti dengan komposisi 1 bagian konsentrat dengan 2 bagian dedak. Bahan pakan alternatif lain yang bisa diberikan antara lain : siput, rejekan mie instan, ampas kelapa, bihun afkir, roti afkir dan lain sebagainya. Kadar protein yang dibutuhkan antara 16-22% dan energy metabolisme sekitar 2900-3000 kkal/kg.
Kebutuhan pakan dan minum per 100 ekor

Umur (Minggu) Jumlah Pakan (kg) Jumlah Minum (lt)
1 1,5 3,2
2 3 7,2
3 4 4,10
4 6,1 13,6
5 5, 6 16
6 6,8 17,6

Kandang
Model kandang untuk penggemukan itik jantan cukup sederhana yaitu kandang bok dan postal. Kandang box digunakan untuk pemeliharaan 1-3 minggu, sedangkan kandang postal untuk pemeliharaan 3 minggu sampai panen. Kunci utama dalam pemeliharaan di kandang box adalah faktor pemanas. Pemanas yang bisa anda gunakan antara lain pemanas buatan(brooder) dengan sumber panas dari minyak tanah, briket batubara, LPG, lampu neon, dop dan sebagainya. Kepadatan kandang per m2 sekitar 30-40 ekor. Sedangkan pada kandang postal yang perlu mendapatkan perhatian adalah kepadatan kandang dan pemantauan laju pertumbuhan. Sering-seringlah mengganti atau menambah alas kandang baik dengan jerami, sekam, atau bahan lain sejenis.

Analisa usaha
Analisa usaha yang kami berikan dengan meniadakan biaya sewa lahan, pembuatan kandang dan tenaga kerja. Mengapa? Anda tentu lebih mengerti jawabannya. Berikut perhitungan usaha penggemukan itik jantan per 100 ekor dalam 40 hari (6 minggu) :
Biaya
• DOD 100 ekor x Rp 3.000 = Rp 300.000
• Pakan dedak l.k 50 kg x Rp 1.200 = Rp 60.000
• Pakan pabrik 100 kg x Rp 5.500 = Rp 550.000
• Obat-obatan Rp 50.000
• Biaya lain-lain Rp 100.000
• Total Pengeluaran Rp 1.060.000,-

Pendapatan
Asumsi bebek yang mati sebelum 6 minggu sebesar 15% (termasuk tinggi). Sehingga yang tersisa adalah 85 ekor dengan harga jual Rp 13.000/ekor maka akan di dapat pendapatan sebesar 85 ekor x Rp 13.000 = Rp 1.275.000,- (harga jual di beberapa daerah bisa tembus angka Rp 18.000-20.000/ekor dengan berat yang sama)
Keuntungan
Keuntungan = total pendapatan – total biaya = Rp 1.275.000 – 1.060.000 = Rp 215.000
Mungkin keuntungan di atas jauh dari bayangan kita, akan tetapi jangan berpaling dulu. Perhitungan di atas hanya untuk jumlah pemeliharaan 100 ekor maka kami menyarankan kepada anda untuk memulainya dengan jumlah minimal 500 ekor. Di samping itu waktu kita juga tidak banyak terpakai karena ini sifatnya usaha sambilan dan anda dapat membandingkanya dengan waktu yang terbuang seorang buruh pabrik yang kerja 8 jam per hari dengan gaji yang diterima. Anda perlu tengok kembali waktu perputaran modal anda. Keuntungan bisa kita maksimalkan dengan usaha berikut :
• Penggunaan pakan alternatif
• Menekan angka kematian
• Mencari harga jual tertinggi
Tak selamanya usaha selalu mulus dan mendatangkan fulus alias duit, sehingga kita mesti siap-siap dengan resiko dan kendala yang siap menghadang. Resiko jangan membuat kita lari akan tetapi kita perlu menghadapinya dengan optimisme akan berhasil. Beberapa kendala antara lain :
1. Keamanan kurang yang bisa mengakibatkan itik mati semua karena penyakit, dicuri orang
2. Bencana alam yang tidak bisa di duga dan ini kita serahkan dengan yang di atas (Allah SWT)
3. Hasil panenan tidak ada yang membeli atau belum menemukan pengepul yang cocok.
4. Limbah bau yang ditimbulkan sehingga mengundang reaksi tetangga sekitar dan bisa jadi kandang kita dirusak, dihancurkan dan bisa jadi ternak kita di jarah alias dirampok
5. Anakan bebek yang kita beli adalah ‘palsu’, bisa jadi betina atau kualitasnya kurang bagus sehingga laju pertumbuhannya kurang
6. Harga pakan di tengah jalan melambung tinggi
7. Pesaing usaha yang mungkin terusik dengan usaha baru kita dan melakukan cara tidak sportif untuk mematikan usaha kita
8. Tidak mendapat dukungan keluarga dan masyarakat
Anda dapat mengcopy isi artikel ini sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan sumbernya : http://www.sentralternak.com

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

BETERNAK ITIK PEDAGING

Peternakan itik umumnya untuk menghasilkan telur. Tetapi itik yang telah lewat masa produksinya maupun itik jantan, sebenarnya sangat potensial untuk dikembangkan menjadi itik potong.

Masyarakat kita, saat ini semakin menggemari daging itik/bebek. Hal ini dapat dilihat dari menjamurnya rumah makan yang menyajikan nasi bebek. Akan tetapi pemenuhan kebutuhan bebek potong masih amat tradisional dan dalam bentuk bebek petelur afkir atau pejantan pejantan yang dipelihara seadanya.
Untuk memenuhi kebutuhan dan kegemaran masyarakat akan daging itik tersebut, perlu diusahakan suatu usaha peternakan itik potong yang dapat menjamin pemenuhan kebutuhan masyarakat.
Pengembangan dan pemeliharaan itik potong agar tercapai efisiensi pemanfaatannya menurut D.L Satie (1991), dapat menggunakan itik yang telah lewat masa produksinya maupun itik jantan. Hal ini dimaksudkan karena itik jantan mempunyai beberapa keunggulan dan keuntungan kalau ditinjau dari segi ekonomisnya.
Untuk harga bibit, itik jantan lebih murah jika dibandingkan itik betina, karena msyarakat selama ini hanya mengenal dan memetik keuntungan dari itik betina sebagai petelur.

Pemeliharaannya tidak membutuhkan waktu yang lama, hanya dalam waktu 2-3 bulan sudah dapat dipetik hasilnya. Ini disebabkan karena pertumbuhan dan perkembangan tubuhnya relatif lebih baik daripada itik betina.
Berat badan sampai saat dipotong tidak kurang dari 1,5 kg jika itik entok pada umur yang sama bias mencapai 2,5kg. Dengan memanfaatkan itik jantan, dalam waktu yang relatif singkat sudah dapat dicapai berat yang lebih dibutuhkan. Hal ini sangat menguntungkan konsumen jika dibandingkan dengan itik afkir. Pemotongan pada umur yang relatif muda, menghasilkan daging yang lebih empuk, lebih gurih dan nilai gizinya lebih tinggi.
Kandang dan pakan
Sistem perkandangan dan pemberian pakan merupakan hal terpenting untuk melaksanakan peternakan secara intensif. Perkandangan itik potong jantan, seperti halnya ayam broiler dengan sistem kandang kering, dimana luas per ekor sekitar 0,25 m2.
Separuh bagian kandang ditutup dengan atap rumbia, yang lainnya sebagai pelindung dan tempat istirahat. Sedangkan separuh bagian yang lain digunakan sebagai tempat untuk makan,minum atau bermain dalam bentuk kandang terbuka.
Pakan itik jantan yang disiapkan sebagai itik potong perlu diperhatikan atas periode pertumbuhannya. Pertumbuhan itik jantan terbagi atas periode pertumbuhan awal (fase starter) dan pertumbuhan lanjut.
Untuk mencapai pertumbuhan maksimal pada fase starter, perlu ditunjang dengan pemberian pakan yang mengandung protein tinggi, yaitu berkisar antara 20-25%.
Agar tercapai nilai efisien dan ekonomis, harga pakan dapat ditekan serendah mungkin dengan memanfaatkan bahan-bahan yang mudah didapat, murah harganya dan nilai gizi yang cukup tinggi.
Misalnya protein yang didapat secara murah, yakni melalui pemanfaatan limbah-limbah hasil kelautan atau tambak, daging bekicot dan lain-lain.
Bisa juga dengan menambahkan enzym-enzym pencernaan agar didapatkan pertumbuhan yang lebih cepat.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

BUDIDAYA KELAPA SAWIT

Budidaya Kelapa Sawit

Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) adalah tanaman perkebunan yang sangat toleran terhadap kondisi lingkungan yang kurang baik. Namun untuk menghasilkan pertumbuhan yang sehat dan jagur serta menghasilkan produksi yang tinggi memerlukan persyaratan tumbuh. Tanaman kelapa sawit mulai berbunga pada umur 12 – 14 bulan dan panen yang secara ekonomis adalah pada saat tanaman berumur 2,5 tahun.
Sejalan dengan peningkatan areal, maka untuk mendukung keberhasilan pengembangan tanaman kelapa sawit diperlukan adanya penyediaan bibit yang bermutu. Bibit tersebut dapat diperoleh dari produsen yang ditunjuk oleh Pemerintah. Penggunaan bahan tanaman yang tidak jelas sumbernya bisa menyebabkan akan timbulnya kerugian bagi pemilik kebun, selain itu juga penanganan bibit dari pembibitan awal hingga ke pembibitan utama merupakan faktor yang sangat penting dalam pertumbuhan selanjutnya.

Nama Dan Alamat Sumber Benih Yang ditunjuk Pemerintah yaitu :

Pusat Penelitian Kelapa Sawit
Jl. Brigjen Katamso No. 51 Medan. Sumatra Utara
Telp. 061-7862477 Fax. 061-7862488
PT. Scofindo
Jl. Yos Sudarso No. 106 Medan. Sumatra Utara
Telp. 061-6616066 Fax. 061-66114390
PT. London Sumatra Ind. Tbk
Jl. Jend. A. Yani No. 2 Medan. Sumatra Utara
Telp. 061-532300 Fax. 061-516640
PT. Dami Mas Sejahtera
Jl. Teuku Umar No. 19 Pekanbaru. Riau
Telp. 0761-32986 Fax. 0761-31417
PT. Tunggal Yunus Estate
Jl. Soekarno-Hatta No. 9 Pekanbaru. Riau
Telp. 0761-571228 Fax. 0761-571520
PT. Bina Sawit Makmur
Jl. Basuki Rahmat No. 788 Palembang
Telp. 0711-817951, 811767 Fax. 0711-811585
PT. Tania Selatan
Jl. Blabak No. 2 A Palembang

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

PENGENDALIAN HAMA WERENG COKLAT

Wereng Coklat masih dianggap hama utama pada tanaman padi. Kerusakan akibat serangan hama ini cukup luas dan hampir terjadi pada setiap musim tanam. Secara langsung wereng coklat akan menghisap cairan sel tanaman padi sehingga tanaman menjadi kering dan akhirnya mati. Berikut cara pengendalian hama wereng coklat :

1. Tanam padi Serempak
Pola tanam serempak dalam areal yang luas dan tidak dibatasi oleh admisistrasi dapat mengantisipasi penyebaran serangan wereng coklat karena jika serempak, hama dapat berpindah-pindah ke lahan padi yang belum panen. Wereng coklat terbang bermigrasi tidak dapat dihalangi oleh sungai atau lautan.

2. Perangkap Lampu
Perangkap lampu merupakan perangkap yang paling umum untuk pemantauan migrasi dan pendugaan populasi serangga yang tertarik pada cahaya, khususnya wereng coklat.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan perangkap lampu antara lain, kekontrasan lampu yang digunakan pada perangkap lampu yang terdapat di sekitarnya. Semakin kontras cahaya lampu yang digunakan maka akan luas jangkauan tangkapannya. Kemampuan serangga untuk menghindari lampu perangkap yang dipasang.
Perangkap lampu dipasang pada pematang (tempat) yang bebas dari naungan dengan ketinggian sekitar 1,5 meter diatas permukaan tanah. Lampu yang digunakan adalah lampu pijar 40 watt dengan voltase 220 volt. Lampu dinyalakan pada jam 18.00 sampai dengan 06.00 pagi. Agar serangga yang tertangkap tidak terbang lagi, maka pada penampungan serangga yang berisi air ditambahkan sedikit deterjen.
Keputusan yang diambil setelah ada wereng pada perangkap lampu, yaitu wereng-wereng yang tertangkap dikubur, atau keringkan pertanaman padi sampai retak, dan segera setelah dikeringkan kendalikan wereng pada tanaman padi dengan insektisida yang direkomendasikan.

3. Tuntaskan pengendalian pada generasi 1
Menurut Baihaki (2011), perkembangan wereng coklat pada pertanaman padi dapat terbagi menjadi 4 (empat) generasi yaitu :
– generasi 0 (G0) = umur padi 0-20 HST (hari Sesudah Tanam)
– Generasi 1 (G1) = Umur padi 20-30 HST, wereng coklat akan menjadi imago wereng coklat generasi ke-1
– Generasi 2 (G2) = Umur padi 30-60 HST, wereng coklat akan menjadi imago wereng coklat generasi ke-2
– Generasi 3 (G3) = umur padi diatas 60 HST.
Pengendalian wereng yang baik yaitu :
1. Pada saat generasi nol (G0) dan generasi 1 (G1).
2. Gunakan insektisida berbahan aktif buprofezin, BPMC, fipronil dan imidakloprid.
3. Pengendalian wereng harus selesai pada generasi ke-1 (G1) atau paling lampat pada generasi ke -2 (G2).
4. Pengendalian saat generasi ke-3 (G3) atau puso tidak akan berhasil
4. Penggunaan Insektisida
1. Keringkan pertanaman padi sebelum aplikasi insektisida baik yang disemprot atau butiran
2. Aplikasi insektisida dilakukan saat air embun tidak ada, yaitu antara pukul 08.00 pagi sampai pukul 11.00, dilanjutkan sore hari. Insektisida harus sampai pada batang pagi.
3. Tepat dosis dan jenis yaitu berbahan aktif buprofezin, BPMC, fipronil dan imidakloprid.
4. Tepat air pelarut 400-500 liter air per hektar.

Sumber : Buku Pedoman Pengendalian Hama dan Penyakit Padi

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar